Adab Terhadab Allah & Rasul-Nya (Tadabbur surat Al-Hujurat, ayat 1)

FacebookTwitterGoogle+

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَميعٌ عَليمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Hujurat: 1).

Allah subhanahu wa ta’ala mengawali surat ini dengan panggilan secara khusus yaitu hanya ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya, panggilan ini merupakan panggilan spesial, dan Allah mengulang panggilan ini sebanyak 89 kali dalam Al-Qur’an, hal ini membuktikan sayangnya Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Penting kita renungkan adalah, apa perbedaan panggilan ini (يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا) dengan panggilan yang lainnya? Salah satu perkataan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliu mengatakan:

إذا سمعت الله يقول: { يا أيها الذين آمنوا } فأرعها سمعك: فإنه خير تأمر به؛ أو شر ينهى عنه.

Artinya: “Jika engkau mendengar Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: يا أيها الذين آمنوا  (Wahai orang-orang yang beriman), maka pasanglah pendengaranmu baik-baik (perhatikan dengan seksama) karena padanya (pasti terdapat) kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang akan dilarang”.

Jika kita simpulkan dari perkataan Abdullah bin Mas’ud ini adalah bahwa setiap panggilan dalam Al-Qur’an merupakan sebuah dialog antara Rabb dengan Hamba-Nya dengan memanggil sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, jika Allah subhanahu wa ta’ala menggunakan panggilan ياأيها الناس misalnya, maka pesannya pun akan menjadi umum ditujukan kepada semua manusia, baik muslim, kafir, laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya masuk dalam panggilan ini, sehingga perintah dan larangan-Nya pun akan berlaku kepada semuanya.

Begitu bila Allah memanggil dengan panggilan يا أيها الذين آمنوا maka yang diajak dialog dengan Allah adalah hanya orang-orang sudah beriman kepada-Nya saja, sehingga perintah dan larangannya pun akan berlaku hanya kepada orang-orang yang beriman, sehingga panggilan ini merupakan panggilan kesayangan dari Sang Maha Penyayang.

Begitulah Al-Qur’an yang merupakan kumpulan dialog –dialog antara hamba dengan Rabbnya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga orang-orang yang mampu mentadabburi ayat demi ayat Al-Qur’an maka ia akan merasa bahwa Allah selalu hadir didalam hatinya, disebabkan menyadari bahwa disaat ia membaca Al-Qur’an sesungguhnya ia sedang asik berbincang dengan Sang Maha Kuasa, alangkah bahagianya seorang hamba yang hina ini mampu menyadari bahwa ia bisa berdialog dengan Allah Yang Maha pencipta. Kita bisa dialog dengan seorang pejabat saya sudah bahagia, apalagi dengan Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi tidak semua orang mampu merasakan hal ini.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala berpesan kepada orang-orang beriman dengan firman-Nya:

لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُولِهِ

janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya

Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya: “Melalui ayat-ayat ini Allah membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman tentang cara bergaul dan berhubungan dengan Rasulullah saw., dari cara menghargai, menghormati, memuliakan dan mengagungkan beliau. Dimana Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya”. maksudnya, janganlah kalian tergesa-gesa melakukan segala sesuatu sebelum Rasulullah saw, tetapi jadilah kalian semua sebagai pengikutnya dalam segala hal.

‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Janganlah kalian mengucapkan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Mujahid mengatakan: “Janganlah kalian mendahului Rasulullah saw. dalam suatu [hal], sehingga Allah Ta’ala menetapkan [nya] melalui lisan beliau.”

Sufyan ats-Tsauri  berkata: “janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” dalam bentuk ucapan dan juga perbuatan.”

Dari semua penafsiran tersebut sebenarnya tidak ada yang bertentangan, bahkan saling melengkapi, sehingga dapat kita simpulkan bahwa apapun yang akan kita ucapkan dan lakukan hendaklah mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, terlebih dalam masalah syari’at, bahkan lebih luas lagi adalah setiap apa yang akan kita lakukan, hendaklah bertanya dahulu kepada Al-Qur’an dan Sunnah sehingga nantinya terhindar dari kesalahan yang berujung dosa.

sebagaimana kisah tentang sahabat mulia ahli fikih Mu’dz bin Jabal ketika diutus oleh Rasulullah Saw ke Yaman, dimana Nabi saw. pernah berkata kepadanya: “Dengan apa engkau akan memutuskan hukum?” ia menjawab: “Dengan kitab Allah Ta’ala.” Jika engkau tidak mendapatkannya?” tanya Rasulullah lebih lanjut. Ia menjawab: “Dengan sunnah Rasulullah saw.” “Dan jika tidak mendapatkannya juga?” tanya beliau lagi. Ia menjawab: “Aku akan berijtihad dengan pendapatku.” Lalu beliau menepuk dadanya seraya berucap: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah saw. atas apa yang telah diridlai oleh Rasulullah saw.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Maksud perkataan Mu’adz bin Jabal adalah, ia mengakhirkan pendapat, pandangan, dan ijtihadnya setelah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.. Seandainya ia mendahulukan ijtihad sebelum mencarinya di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka yang demikian itu termasuk salah satu sikap mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa setiap apapun yang akan kita lakukan dan ucapkan haruslah bertanya dahulu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, agar terhindar dari sikap mendahului Allah dan Rasul-Nya, terutama masalah ibadah, karena ibadah tidak boleh dilakukan kecuali adanya perintah dri Allah melalui baginda Nabi saw. Hukum asal semua ibdah adalah haram dilakukan kecuali adanya dalil atau perintah, sebagaimana dalam kaidah ushuliyah dikatakan:

الأصل فى العبادات التحريم إلا ما دل الدليل على خلافه

“Hukum asal semua ibadah adalah haram (dilakukan), kecuali adanya dalil yang menyelisihi (hukum asal)”.

Setiap ibadah haruslah kita bertanya “adakah perintahnya”, bukan “mana larangannya”, Karena hukum asal ibdah sudah dilarang, lain halnya dengn masalah selain ibadah, seperti masalah-masalah duniawi seperti hukum membuat mobil, HP, kaca mata, dan lainnya, atau hukum memakan ayam, bebek, dan lainnya maka hukum asalnya adalah boleh, sehingga jika ada sesuatu diluar ibadah maka kita bertanya “adakah larangan melakkannya”? Karena memang hukum asal sesuatu adalah mubah (boleh).

Kemudia Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَميعٌ عَليمٌ “dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Setelah kita diperintahkan untuk selalu mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dan dilarang mendahului ketetapan Nya, kemudian kita diperintahkakn agar kita selalu bertaqwa kepadaNya, maknanya adalah kita harus selalu merasa bahwa Allah selalu bersama kita, sehingga selalu berusaha menjalankan semua perintah-Nya semampunya  dan meninggalkan semua yang dilarang. Dengan demikian manusia tidak ada hak untuk membuat undang-undang atau peraturan baru, jika Allah sudah menetapkannya untuk kita, karena jika kita sebagai manusia membuat aturan yang mana Allah sudah membuat peraturan, apalagi ternyata peraturan yang kita buat bertentangan dengan  aturan Allah atau mempercayai bahwa peraturannya jauh lebih baik dari aturan Allah, maka kita sudah mendahului dan lancang terhadap Allah, artinya hilanglah status sebagai orang yang bertaqwa.

Kemudian Allah memberikan Nama-Nya yang agung lagi mulia yaitu “sesungguhnya  Allah Maha mendengan” stiap apapun yang kita ucapkan, dan “maha mengetahui” baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, Allah maha mengetahui apa yang terdapat dalam hati dan niat kita. Sehingga mustahil bagi manusia menghindari dari pantauan Allah, karena Allah maha mendengar lagi maha mengetahui, dan setiap apa pun yang dilakukan manusia akan dimintai pertanggungan jawab diakhirat kelak. Wallahu a’lam bish-showab. (Setyawan)

FacebookTwitterGoogle+

2 Responses to Adab Terhadab Allah & Rasul-Nya (Tadabbur surat Al-Hujurat, ayat 1)

  1. informasi ini sangat bagus sekali untuk di baca

  2. Takutlah engkau akan fitnah dan adzab Allah, tundukkanlah jiwamu untuk patuh dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tidak halal bagi seorang Mukmin, ketika disampaikan kepadanya firman Allah dan sabda Rasul-Nya, ia memiliki pilihan yang lain yang bukan berasal dari keduanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *