Beginilah para Ulama mengkhatamkan Al-Qur’an…

FacebookTwitterGoogle+

Satu-satunya nama bulan yang disebut namanya dalam Al-Qur’an adalah Ramadhan (surat Al-Baqarah: 185), hal ini menunjukkan adanya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh  bulan-bulan lainnya, karena pada bulan tersebut Al-Qur’an diturunkan, maka tak heran jika ada sebutan Ramadhan adalah syahrul Qur’an.

Disunnahkan setiap umat muslimin untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan hendaklah lebih semangat untuk mengkhatamkan pada bulan tersebut. Walaupun hal ini tidaklah wajib, artinya, jika tidak mengkhatamkan Al-Qur’an, maka tidak berdosa. Namun sayang, akan kehilangan pahala yang sangat besar.

Hal inipun sudah dicontohkan oleh Nabi kita SAW yaitu mengkhatamkan Al-Qur’an di hadapan Jibril . Dari Abu Hurairah R.A, ia berkata,

كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ) فِيهِ (

Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi SAW setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi SAW biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari).

Dari situ, para ulama R.A begitu semangat mengkhatamkan Al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan.

Beberapa contoh para Ulama dalam mengkhatamkan Al-Qur’an.

Imam An-Nawawi dalam kitabnya “at-Tibyân fî âdâb hamalatil Qur’an” menyebutkan beberapa kebiasaan para ulama mengkhatamkan Al-Qur’an diantaranya ada yang sebulan sekali khatam, sepuluh hari sekali, 8 hari sekali, 7 hari sekali, 6 hari sekali, 5 hari sekali, 4 hari sekali, 3 hari sekali, 2 hari sekali, tapi kebanyakan mereka mengkhatamkan sehari sekali (setiap hari khatam), dan ada pula yang mengkhatamkan sehari 2 kali khatam, sehari 3 kali, dan sebagian lagi ada yang khatam dalam sehari hingga 8 kali (siang 4 kali, malam 4 kali). (lihat at-Tibyan: 88)

Mereka yang mengkhatamkan setiap hari diantaranya Utsman bin ‘Affan, Tamîm ad-Dârî, Sa’îd bin Jubair, Mujâhid, asy-Syâfi’î, dan lainnya..

Dan mereka yang mengkhatamkan 3 kali dalam sehari yaitu Sulaim bin ‘Itr seorang Qâdhi (Hakim agung) di Mesir pada kekholifahan Mu’awiyah RA., Abu Bakar bin Aby Daud meriwayatkan bahwa ia mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 3 kali dalam sehari. (lihat at-Tibyan: 89)

Syeik Shaleh Abu ‘Abdirrahman berkata: “aku mendengar Sayeik Abu ‘Utsman al-Maghribî berkata, ‘dulu ibnu al-Kâtib RA mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4 kali pada waktu siang dan 4 kali waktu malam, dan ini merupakan pengkhataman Al-Qur’an paling banyak dalam sehari semalam.’”.

Bahkan ada ulama yang mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan lebih banyak dari itu semua, seperti yang diriwayatkan oleh ibnu Abi Daud dengan sanad yang shahih ia mengatakan bahwa Mujahid mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan dari waktu maghrib hingga isya’, begitu pula yang dilakukan oleh ulama lainnya seperti, Ali al-Azdî dan lainnya. (lihat at-Tibyan: 89)

 Contoh lain yang diterangkan oleh imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyar A’lam An-Nubala” diantaranya:

Imam Asy-Syafi’i yang terkenal sebagai salah satu ulama madzhab sebagaimana disebutkan oleh muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman,

كَانَ الشَّافِعِيُّ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سِتِّيْنَ خَتْمَةً

“Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali.” Ditambahkan oleh Ibnu Abi Hatim bahwa khataman tersebut dilakukan dalam shalat. (Siyar A’lam An-Nubala’, 10: 36). berarti Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an sehari dua kali.

Al-Aswad bin Yazid –seorang ulama besar tabi’in ia bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata,

كَانَ الأَسْوَدُ يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي رَمَضَانَ فِي كُلِّ لَيْلَتَيْنِ

“Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam.” (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51).

Sedangkan di luar bulan Ramadhan, Al-Aswad biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam enam malam. Waktu istirahat beliau untuk tidur hanya antara Maghrib dan Isya. (Siyar A’lam An-Nubala, 4: 51)

Ada seorang ulama di kalangan tabi’in yaitu Qatadah bin Da’amah yang salah seorang murid dari Anas bin Malik RA. Beliau ini sampai dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai ulama pakar tafsir dan paham akan perselisihan ulama dalam masalah tafsir. Sampai-sampai Sufyan Ats-Tsaury mengatakan bahwa tidak ada di muka bumi ini yang semisal Qatadah. Salam bin Abu Muthi’ pernah mengatakan tentang semangat Qatadah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an,

كَانَ قَتَادَة يَخْتِمُ القُرْآنَ فِي سَبْعٍ، وَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ خَتَمَ فِي كُلِّ ثَلاَثٍ، فَإِذَا جَاءَ العَشْرُ خَتَمَ كُلَّ لَيْلَةٍ

“Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Namun jika datang bulan Ramadhan ia mengkhatamkannya setiap tiga hari. Ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, ia mengkhatamkan setiap malamnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 5: 276)

Ibnu ‘Asakir adalah seorang ulama hadits dari negeri Syam, dengan nama kunyah Abul Qasim, beliau penulis kitab yang terkenal yaitu Tarikh Dimasyq. Anaknya yang bernama Al-Qasim mengatakan mengenai bapaknya,

وكان مواظبا على صلاة الجماعة وتلاوة القرآن، يختم كل جمعة، ويختم في رمضان كل يوم، ويعتكف في المنارة الشرقية، وكان كثير النوافل والاذكار

“Ibnu ‘Asakir adalah orang yang biasa merutinkan shalat jama’ah dan tilawah Al-Qur’an. Beliau biasa mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekannya. Lebih luar biasanya di bulan Ramadhan, beliau khatamkan Al-Qur’an setiap hari. Beliau biasa beri’tikaf di Al-Manarah Asy-Syaqiyyah. Beliau adalah orang yang sangat gemar melakukan amalan sunnah dan rajin berdzikir.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 20: 562)

Imam an-Nawawi  menyebutkan bahwa kemampuan masing-masing berbeda. Adakalanya seseorang dalam keadaan sibuk pikirannya, maka jika demikian hendaklah berusaha sebisa mungkin sesuai kemampuannya. Begitu pula orang yang sibuk dalam menyebarkan ilmu (mengajar) atau sibuk mengurus urusan agama lainnya untuk urusan orang banyak, berusahalah pula untuk mengkhatamkannya sesuai kemampuan. Sedangkan selain mereka yang disebut tadi, hendaknya bisa memperbanyak membaca, jangan sampai jadi lalai (hanya karena malas dan capek). (At-Tibyan, hal. 72).

Wallahua’lam bishshowab..

by: setyawan

 

referensi:

At-Tibyan fi Adab Hamalah Al-Qur’an. Cetakan ke-6 tahun 1434 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar as-salam.

Siyar A’lam An-Nubala’. Cetakan kedua tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabiy. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

 

 

FacebookTwitterGoogle+

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *