bolehkah Talfiq dalam bacaan Al-Qur’an?

FacebookTwitterGoogle+

Kitab suci Al-Qur’ân yang diturunkan kepada Nabi Muhammad itu merupakan suatu rahmat bagi seluruh alam. Di dalamnya berisi kandungan wahyu Allah yang menjadi petunjuk, pedoman hidup, serta pelajaran bagi siapa saja yang mengimani dan mengamalkannya. Karena itu, setiap orang yang membaca Al-Qur’ân dengan hati yang khusyu’ semata-mata mengharapkan ridla dari Allah, niscaya akan bertambahlah keimanan dan kecintaannya terhadap-Nya.
Dalam membaca Al-Qur’ân, sudah tentu harus memperhatikan aturan-aturannya, karena yang dibaca itu adalah kalamullah yang harus dijunjung tinggi dan dimulyakan.
Imam al-Ghazali mengatakan:
فَالْقَارِئُ يَنْبَغِيْ أَنْ يُحْضِرَ فِى قَلْبِهِ عَظَمَةَ الْمُتَكَلِّمِ وَيَعْلَمَ أَنَّ مَا يَقْرَأَهُ لِيْسَ مِنْ كَلاَمِ الْبَشَرِ
“Sudah sepantasnya bagi orang yang membaca al-Quran untuk menghadirkan keagungan Allah swt. di dalam hatinya dan meyakini bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkatan manusia.”
Salah satu aturan dalam membaca Al-Qur’ân ialah menerapkan kaedah-kaedah ilmu Qiro’at sesuai dengan yang diikutinya. Karena itu, pembaca harus mengetahui aturan-aturan tersebut seluas-luasnya, agar tidak mendapatkan kesulitan dalam membaca Al-Qur’ân dan terhindar dari kesalahan bahkan tercampurnya antara bacaan qiro’at yang satu dengan yang lainnya, karena mencampur adukkan bacaan atau talfîq (التلفيق) adalah dilarang dan bahkan haram, makruh dan tercela, Husni Syaikh ‘Utsman dalam kitabnya “Haqqut Tilawah” mengatakan bahwa talfîq dalam bacaan (qirôat) tidak diperbolehkan, lain halnya talfiq dalam madzhab fiqhiyyah sebagian ulama memperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu.

FacebookTwitterGoogle+

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *