Bolehkah wanita haidh membaca Al-Qur’an?

FacebookTwitterGoogle+

Sebenarnya ini merupaka masalah khilafiyah dikalangan Ulama’, sebagian kecil dari mereka mengharamkan membaca Al Qur’an bagi wanita yang sedang haidh, tetapi Jumhur Ulama berpendapat bahwa  wanita yang sedang haidh boleh membaca Al Qur’an, lebih-lebih adanya sesuatu keperluan yang mengharuskannya membaca, seperti takut lupa hafalan Al Qur’annya, muroja’ah, ujian, Ruqyah (pengobatan), dengan syarat tidak menyentuhnya. Karena Mushaf tidak boleh disentuh melainkan dengan keadaan suci, dan jika mengharuskan mereka untuk menyentuh mushaf hendaknya menyentuh dengan alas, sepeti: sarung tangan yang bersih, sapu tangan atau yang sejenisnya.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah Rahimahulloh berkata: “sesuatu yang lazim bahwa perempuan-perempuan pada zaman Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka haidh dan beliu tidak melarangnya untuk membaca Al Qur’an, sebagaimana tidak dilarangnya mereka untuk berdzikir dan berdo’a, bahkan mereka diperintahkan untuk keluar pada hari raya ‘Ied dan bertakbir bersama orang-orang muslimin lainnya” (Majmu’ fatawa: 21/460)
Beliau juga berkata: “tidak ada larangan untuk wanita haidh membaca Al Qur’an baik dalil dari Al Qur’an maupun Sunnah. Dan sungguh wanita-wanita pada zaman Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam mereka haidh dan tidak dilarang membaca Al Qur’an, seandainya membaca waktu haidh dilarang (haram) sebagaimana diharamkannya sholat, pastilah sudah disampaikan oleh  Nabi untuk ummatnya dan diketahui oleh ummul mu’minin (istri-istri Nabi). Jadi selama tidak diketahui dasar hukum (dalil) dari Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang larangan itu maka seseorang tidak boleh mengharamkan (melarangnya), Rasululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui wanita-wanita haidh dan tidak melarangnya membaca Al Qur’an itu menunjukkan bukan perbuatan yang diharamkan (larangan)” (Majmu’ Fatawa: 26/191)
Ulama’ Al Lajnah Ad Daimah lil Ifta’ berkata: “Bagi wanita haidh boleh membaca Al Qur’an dengan hafalan tanpa memegang mushaf  secara langsung, dikarenakan ada sebab yang mengharuskannya untuk membaca agar tidak lupa dengan hafalannya”. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah: 4/232).
Syikh bin Baz Rahimahulloh berkata: “bagi wanita haidh dan nifas boleh membaca Al Qur’an dengan hafalan, karena jangka waktu keduanya lama (dikhawatirkan lupa), dan sedangkan diqiyaskan dengan junub itu kurang tepat, maka dari itu bagi seorang siswi tidak mengapa membaca Al Qur’an, begitu juga pengajar ketika ujian maupun tidak. membaca dengan hafalan tanpa memegang mushaf, tetapi jika mengharuskan keduanya memegang mushaf maka tidak mengapa dengan syarat menyentuhnya dengan alas” (majmu’ fatawa ibn baz: 6/360).
Syaikh ibn ‘Utsaimin Rahimahulloh berkata: “bagi wanita haidh dibolehkan membaca Al Qur’an baik dengan tafsir maupun bukan tafsir jika dikhawatirkan hafalannya lupa. Jika membaca dengan tafsir tidak disyaratkan dalam keadaan suci, tapi jika membacanya bukan dengan tafsir (mushaf) maka hendaklah antara dia dan mushaf ada alas (pembatas) seperti sapu tangan, sarung tangan atau yang sejenisnya, karena wanita yang sedang haidh dan begitu juga orang yang belum suci tidak diperbolehkan baginya menyentuh mushaf” (fatawa nuur ‘ala Ad darb, ibn ‘Utsaimin: 27/123)
Syaikh ‘Utsaimin Rahimahulloh ditanya tentang hukum membaca Al Qur’an dengan hafalan bagi wanita yang sedang haidh untuk mengharapkan pahala dari Alloh subhanahu wata’ala atau untuk keperluan pengobatan (Ruqyah)?
Beliau menjawab: bagi wanita yang sedang haidh jika membaca Al Qur’an dengan tujuan selain untuk sekedar membaca maka tidak mengapa (membaca karena ada sebab keperluan maka boleh), dan jika untuk keperluan pengobatan (Ruqyah) atau keperluan yang lainnya seperti mengajar, belajar, maka tidak mengapa, karena membacanya dikarenakan ada sebab” (fatawa nuur ‘ala Ad darb, ibn ‘Utsaimin: 21/123)
Jadi tidak ada larangan bagi wanita yang haidh melakukan ruqyah untuk dirinya dengan Al Qur’an dan dzikir-dzikir yang syar’i, dan kalaupun harus membaca dengan mushaf boleh saja degan syarat tidak menyentuhnya kecuali dengan alas (pembatas)
Sedangkan mereka yang tidak membolehkan membaca Al Qur’an bagi wanita haidh, tidak ada dasar yang Shohih, dan mereka mengqiyaskan (menyamakan) dengan hukum junub, (karena bagi seseorang yang junub tidak boleh membaca atau menyentuh Mushaf). Dan itu kurang tepat sebagaimana yang diungkapkan oleh syaikh bin Baz Rahimahulloh. Wallahu ‘alam…
(by: setyawan) – See more at: http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/bolehkah-wanita-haidh-membaca-al-quran.html#sthash.sbToLBBY.dpuf

FacebookTwitterGoogle+

One Response to Bolehkah wanita haidh membaca Al-Qur’an?

  1. Ketika mengalami haidh tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Al Quran sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Al Quran sebulan Ramadhan. Membaca mushaf saat haidh namun tidak menyentuh secara langsung Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *