Etika dan adab-adab di jalan

FacebookTwitterGoogle+

Etika dan adab-adab di jalan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya adalah:

  1. Berjalanlah dengan tenang tidak cepat maupun lambat. Berjalanlah dengan sikap wajar dan tawadhu’, tidak berlagak sombong disaat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau memalingkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah berfirman dalam surat luqman ayat: 18:

“dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman: 18).

  1. Memperhatikan hak-hak jalan, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “janganlah kalian duduk-duduk di tepi jalanan”, para sahabat berkata: “sesungguhnya kami perlu duduk-duduk utuk berbncang-bincang”, beliau berkata: “jika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut”, mereka bertanya: “apa hak jalan tersebut wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “menunduklah (menjaga) pandangan, tidak mengganggu orang yang lewat, menjawab salam, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”. (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah berfirman dalam surat An-nur: 30-31:
  3. “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
  4. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nur: 30-31).
  5. Singkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yang menyebabkannya masuk ke surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ketika ada seseorang sedang berjalan disuatu jalan, ia menemukan dahan berduri dijalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya…” didalam suatu riwayat disebutkan, “maka Allah Subhanahu wa ta’ala memasukkannya ke surga”“. (HR. Bukhari dan Muslim).
  6. Tunjukkan orang yang tersesat, berikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan tegurlah orang yang berbuat keliru serta membela orang yang teraniaya. Didalam hadits disebutkan: “setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah..” dan disebutkan diantaranya, “berbuat adil diantara manusia adalah sedekah, menolong dan membawanya diatas kendaraannya adalah sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya keatas kendaraannya adalah sedekah dan menunjukkan jalan adalah sedekah…” (HR. Bukhari dan Muslim).
  7. Wanita hendaklah berjalan dipinggir. Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat campur baurnya laki-laki dengan perempuan dijalanan, maka ia bersabda kepada wanita: “menepilah kalian, kalin tidak layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri tepi jalan”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
  8. Janganlah mengebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yang ramai dengan pejalan kaki, melapangkan jalan untuk orang lain dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk lewat. Semua itu termasuk tolong-menolong di jalan kebajikan. Aturlah posisi dan jarak jangan membuat macet jalanan dan taati rambu lalu lntas. Wallahu a’lam. (setyawan)
FacebookTwitterGoogle+

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *