Penuntut ilmu..! Perhatikan adabmu..

FacebookTwitterGoogle+

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya karena Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh harta duniawi, maka ia tidak akan mendapati aroma surga” (HR. Abu Daud).

Dari Syaikh Malik bin Dinar rahimahullahu ta’ala, ia berkata, “Seseorang yang berilmu namun tidak mengamalkannya, maka nasihatnya selalu meleset dari banyak hati, seperti tetesan air meleset dari batu licin”.

Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat, seseorang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam api neraka hingga keluarlah usus-usus dari perutnya, lalu ia berputar-putar dengannya seperti seekor keledai mengitari penggilingan. Lalu para penghuni neraka pun berkumpul di dekatnya dan berkata, ‘Hai Fulan, bukankah kamu yang dahulu memerintahkan orang untuk berbuat baik dan mencegah kemungkaran?’ Ia pun menjawab, ‘Begitulah, aku yang dahulu memerintahkan orang berbuat baik, namun aku sendiri tidak menjalankannya, dan aku yang melarang kemungkaran, namun aku malah menjalankannya’” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang banyak orang melalaikannya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang (HR. Bukhari).

Dari Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad bahwa ia berkata, “Hati itu laksana tanah, ilmu adalah tanamannya, dan mudzakarah (kaji ulang) adalah airnya. Ketika siraman air terputus dari tanah, maka keringlah tanamannya”.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang berilmu dan ahli berfatwa, tidak ada sesuatu yang lebih dibutuhkannya melainkan sikap santun, tenang, dan sopan. Itulah kelambu bagi ilmunya dan perhiasannya. Apabila ia kehilangan sikap itu, maka ilmunya seperti badan yang telanjang tanpa busana”.

Seseorang itu tergantung kepada agama teman akrabnya. Oleh karena itu, hendaklah seseorang memperhatikan siapakah yang akan dijadikan sebagai teman akrab (HR. Tirmidzi).

Nabi bersabda, “Janganlah kalian bersahabat kecuali dengan orang beriman, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa” (HR. Tirmidzi).

Nabi bersabda, “Pergunakanlah lima kesempatan, sebelum datangnya lima halangan: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan masa kayamu sebelum masa miskinmu” (HR. Ahmad).

Nabi bersabda, “Sesungguhnya di antara amal kebaikan seorang mukmin yang dapat menyusul setelah kematiannya adalah: ilmu bermanfaat yang diajarkan dan disebarluaskan, anak shaleh yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang dibangun, rumah untuk ibnu sabil yang dibangun, sungai yang dialirkan, sedekah yang dikeluarkan sewaktu sehatnya dan hidupnya. Semua itu akan menyusul setelah kematiannya” (HR. Ibnu Majah).

Imam Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dari Al-Junaid bahwa ia berkata, “Tak seorangpun yang mencari sesuatu dengan sungguh dan jujur, kecuali ia pasti mendapatkannya. Kalaupun tidak meraih semuanya, maka sebagiannya”.

Nabi bersabda, “Tidaklah suatu kaum tersesat setelah meraih hidayah, kecuali karena mereka suka berdebat” (HR. Tirmdzi).

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, “Orang-orang sekarang banyak terjangkiti fitnah ini. Mereka menganggap bahwa orang yang banyak berbicara, berdebat, dan bertengkar dalam masalah-masalah agama itu lebih pandai dibandingkan yang tidak demikian. Ini adalah kebodohan murni”.

Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi (An-Najm: 29).

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Seseorang tetap menjadi orang berilmu selama ia tetap belajar. Jika ia meninggalkan belajar dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, maka ketika itulah ia menjadi orang bodoh”.

Dikatakan kepada Ibnu Abbas, “Dengan perangkat apa engkau memperoleh ilmu?” Ia menjawab, “Dengan lisan yang pandai bertanya dan hati yang selalu berpikir”.

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdillah mendapatkan berita adanya sebuah hadits di tempat Abdullah bin Unais, maka ia pun pergi kesana dengan menempuh perjalanan selama satu bulan hingga sampai di negeri Syam, hanya untuk mendengarkan sebuah hadits darinya yang ia dengar dari Rasulullah.

Hormat Pada Ulama

Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ia berkata, “Di antara hak seorang yang berilmu yang harus kau tunaikan adalah tatkala kamu menyampaikan salam kepada sekumpulan orang, khususkan untuknya satu penghormatan. Hendaklah kamu duduk di depannya dan jangan memberikan isyarat dengan tanganmu di sampingnya. Janganlah kamu memejamkan matamu, dan jangan mengatakan kepadanya, ‘Fulan berpendapat lain dengan pendapat anda’, dan janganlah menggunjing seseorang di hadapannya”.

Dari Abu Salmah, bahwa Ibnu Abbas mendatangi Zaid bin Tsabit kemudian Ibnu Abbas menuntun untanya. Maka Zaid pun berkata, “Biarkanlah wahai putra paman Rasulullah!” Maka Ibnu Abbas menjawab, “Demikianlah kami memperlakukan ulama dan para tokoh kami” (HR. Hakim).

Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata, “Saya dahulu membuka lembaran kertas di depan Imam Malik dengan sangat pelan agar ia tidak mendengar suaranya karena hormatku kepadanya”.

Hasan bin Ali berkata kepada putranya, “Wahai anakku, jika kamu bergaul dengan para ulama, maka jadilah kamu orang yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara, belajarlah untuk mendengarkan dengan baik sebagaimana kamu belajar diam dengan baik, dan janganlah kamu memutus pembicaraan seseorang meskipun ia berbicara panjang hingga ia berhenti berbicara”. (Setyawan)

FacebookTwitterGoogle+

One Response to Penuntut ilmu..! Perhatikan adabmu..

  1. Berikut ceramah singkat dari Ustadz Ahmad Zaki Husni dengan tema Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *