Wajar dalam segala hal

FacebookTwitterGoogle+

Bersikap wajar dalam segala hal itu sangat dianjurkan dalam agama kita, tidak hanya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan sesama manusia (sosial) saja, bahkan terhadap hal ibadah sekalipun anjuran tersebut tetap akan berlaku. Karena segala sesuatu jika dilakukan dengan berlebihan maka akan menjadi kurang baik, dan bahkan termasuk dalam larangan, walaupun itu merupakan kebaikan atau bahkan ibadah sekalipun. Dan inilah yang disebut dengan ghuluw

Ghuluw adalah sikap melampaui batas kebenaran. Sesuatu yang berlebih-lebihan pasti akan keluar dari jalan yang benar. Ibn Hajar mengatakan: “Ghuluw adalah berlebih-lebihan terhadap sesuatu dan menekan hingga melampau batas.” (Fathul Bāri, hal. 278).

Rasulullah SAW menegaskan akan bahaya ghuluw ini, sebagimana hadits dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan.” Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR Muslim).

Mungkin bersikap wajar/biasa dalam urusan sosial sudah sangat paham, seperti disaat kita dapat melakukan sesuatu yang orang lain tidak mampu artinya kita mendapatkan dalam diri kita kelebihan, maka kita harus bersikap wajar dan tidak sombong. Dan sebaliknya, jika kita tidak mampu melakukan sesuatu yang dilakukan oleh orang lain, atau mendapatkan musibah, maka kitapun tidak lantas minder dan putus asa.

Sedangkan dalam urusan ibadahpun kita diperintahkan untuk melakukannya dengan wajar dan tidak berlebihan, walaupun menurut logika, semakin bayak dan hebat dalam melakukan ibadah, maka akan bagus juga hasilnya, tetapi dalam kenyataannya tidak seperti itu, hal inipun sudah terjadi pada para sahabat, yang mana ada beberapa sahabat Nabi yang datang kepada beliau, dan menanyakan akan ibadah beliau, dengan harapan dapat mengejar dan beusaha lebih baik darinya.

Dari Anas ia berkata, “Ada tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi SAW untuk bertanya tentang ibadah Nabi SAW. Saat mereka diberitahu, maka sepertinya mereka menganggapnya sedikit, lalu mereka berkata, “Bagaimanakah keadaan kami dibanding Nabi SAW  yang telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.” Salah seorang dari mereka berkata, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Yang lain berkata, “Saya akan berpuasa selama-lamanya dan tidak akan berbuka.” Sedangkan yang lain lagi berkata, “Saya akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.” Maka datanglah Rasulullah SAW kepada mereka dan bersabda, “Kalian yang berkata begini dan begitu. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling takwa kepada-Nya. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku menikahi wanita. Barang siapa yang tidak suka sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)

Kesimpulannya jika kita dianugerahi Allah SWT berupa kelebihan maka syukuri dan jangan merasa paling hebat, karena diluar sana masih banyak orang yang lebih hebat dari kita. Dan jika kita diuji dengan musibah, maka bersabarlah dan ingatlah bahwa diluar sana masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dan musibah yang lebih besar.

Yakinlah bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, disitulah kita harus saling melengkapi. Apa yang bisa kita lakukan belum tentu orang lain mapu melakukannya, begitupun sebaliknya apapun yang dilakukan orang lain  bisa jadi kita tidak mampu melakukannya, dan diberikan kelebihan dalam bidang yang lainnya.

Sebaik-baik kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan seburuk-buruk orang lain tidaklah lebih  buruk dari diri kita.

Tetap tersenyum dan bersyukur adalah obat dari segala kegundahan dan rasa minder. Wallahua’lam bishshowab… /by. Setya-one

 

FacebookTwitterGoogle+

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *